WARTA 24 KALIMANTAN UTARA

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Distan Pastikan Kebutuhan Beras Daerah di Malinau Cukup

Posted by On 11.25

Distan Pastikan Kebutuhan Beras Daerah di Malinau Cukup

Distan Pastikan Kebutuhan Beras Daerah di Malinau Cukup

Merujuk pada data yang kami miliki, untuk musim tanam ke tiga tahun 2017 lalu terdapat lahan sawah dan ladang seluas 900 hektare

Distan Pastikan Kebutuhan Beras Daerah di Malinau CukupTRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFANSalah seorang petani menyiangi sawahnya, Sabtu (20/1/2018).

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Memenuhi kebutuhan beras daerah (Rasda) Dinas Pertanian (Distan) Malinau memastikan produksi beras lokal tahun 2018 ini cukupi untuk menjalankan program itu. Distan mencatat, 400 hektare sawah dan ladang di Malinau sedang melaksanakan panen pada bulan Januari sampai Februari mendatang.

Panen kali ini mer upakan hasil dari musim tanam ke tiga tahun 2017 lalu, yang jatuh pada bulan September dan Oktober. Kepala Distan Kristian Muned menyatakan, di Malinau terdapat kurang lebih 900 hektare sawah dan ladang. Namun, diperkirakan dengan berbagai gangguan ada 400 hektare sawah dan ladang sukses menjalankan program pertanian.

"Merujuk pada data yang kami miliki, untuk musim tanam ke tiga tahun 2017 lalu terdapat lahan sawah dan ladang seluas 900 hektare. Jika luas tanam 900 hektare ini kita kurangkan dengan adanya gangguan hama dan banjir, maka kita bisa estimasikan jumlah luasan lahan seluruhnya atau dapat juga dikatakan luasan bersih sekitar 400 hektare sawah dan ladang," jelasnya.

Keyakinan mencukupi kebutuhan Rasda, dijelaskan Muned, merunut pada jumlah kebutuhan rasda tahun 2018 ini sebanyak 300 ton. Perhitungan sementara dengan luas tanam padi di atas 400 hektare hamparan sawah dan ladang maka akan menghasilkan gabah sebanyak 1200 ton.

"Nah, kalau d ijadikan beras maka kita akan menghasilkan 720 ton beras dari 1200 ton gabah yang digiling. Dengan asumsi, setiap hektare sawah maupun ladang yang ditanam menghasilkan gabah sebanyak 3 ton. Kemudian, setelah disampaikan kebutuhan Rasda tahun ini 300 ton maka dengan perhitungan itu kebutuhan rasda kita tahun ini dapat dicukupi," tandasnya.

Meskipun hitungan di atas kertas dapat mencukupi kebutuhan, Muned menyatakan, pihaknya akan tetap melakukan pemantauan langsung di lapangan. Pasalnya, sesuai pengalaman sebelumnya, perhitungan antara Distan dengan kondisi di lapangan berbeda. Sehingga, kontrol lebih lanjut di lapangan sangat diperlukan.

Menyikapi ketakutan petani akan hama hawar daun bakteri (HDB), Distan juga khawatir. Namun, Muned menyatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada petani-petani untuk segera menyemprot pestisida pada tanaman padi yang terkena hama tersebut.

"HDB ini merupakan penyakit padi yang memang endemik di Malinau. Penyaki t ini sudah nampak dari benih. Sehingga, perlu penyemprotan pestisida. Dan kita, sudah melakukan sosialisasi kepada petani supaya mengantisipasinya segera. Kami juga berupaya memberikan solusi kepada petani untuk menyelesaikan persoalan ini. Begitu pula dengan serangan hama tungro," jelasnya lagi.

Sebagai informasi, Rasda merupakan program pengganti Beras Miskin (Raskin). Artinya, kebijakan daerah ini menggantikan kebijakan nasional. Memenuhi kebutuhan Rasda, Pemkab Malinau membeli gabah para petani di Malinau. Kemudian, hasilnya di serahkan kepada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) dan juga dijual secara umum. (*)

Pestisida Berlebih Bahayakan Lingkungan
KEPALA Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Distan, Syahriansyah mengungkapkan, pemakaian pestisida terlampau sering dan tidak terukur juga akan membahayakan lingkungan sekitar. Selain itu, dapat pula mengakibatkan hama akan semakin kebal dengan pestisida ketika penggunaan pestisi da tidak terukur.

"Kita tidak terlalu menganjurkan kepada petani untuk menggunakan pestisida sebagai sebuah jawaban menyelesaikan penyakit HDB ini. Lebih baik, petani menjalankan pembersihan konvensional. Kita juga telah melakukan pengamatan dan mengidentifikasi langsung di lapangan. Akhirnya, dapat kita pastikan bahwa penyakit HDB lah yang kerap menyerang," paparnya.

"Yang dapat kami lakukan saat ini selain melakukan pengamatan dan identifikasi, adalah memberikan penyuluhan dan sosialisasi kepada para petani untuk melakukan langkah-langkah agar penyakit ini dapat segera dihentikan dan menyetop penyebarannya. Selain bantuan itu, kita tidak dapat lakukan. Tahun ini baru kita anggarkan bantuan pestisida," lanjutnya.

Lebih lanjut, dijelaskan Syariansyah, penyakit HDB ini akan menyerang daun dan batang padi. Selain menguning, jumlah batang (anakan padi) tidak akan bertambah. Apabila terus dibiarkan dan terkena penyakit ini maka dapat merambat ke daerah pertanian lainnya.

"Jadi ada dua macam gangguan pada tanaman. Pertama hama, itu merupakan binatang hidup pengganggu tanaman. Seperti, tikus, wereng, bekecot, belalang dan lain-lain. Kedua ya penyakit. Ya seperti HDB ini. Penyakit ini ditimbulkan oleh bakteri Xanthomonas Oryzae pv. Kalau petani mau menggunakan pestisida, yakni dengan jenis Bakterisida Cuprocide," tuturnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto Editor: Mathias Masan Ola Sumber: Tribun Kaltim Ikuti kami di Perawat Pelaku Pelecehan Dibekuk di Hotel dengan Istri, Reka Ulang Perilakunya saat Diperiksa Sumber: Google News | Warta 24 Malinau

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »